happiness · lesson

6 tahun tanpa TV

Akhir tahun 2016 kemarin, genap 6 tahun menikah, genap 6 tahun pula keluarga kecil kami hidup tanpa TV.  Awal menikah, anggaran rumah tangga memang terbatas dan pas-pasan membuat kami yg sepakat untuk tidak menerima pemberian orang tua cukup kewalahan. Boro-boro beli TV, gaji bulanan kami berdua saat itu ngepas buat bayar cicilan rumah, biaya kuliah suami dan pinjaman renovasi rumah. Lalu untuk makan sehari-hari gimana? Kebetulan saat itu saya bekerja di tempat yg menyediakan makan siang dan suami makan siang di kantin dengan sistem voucher kampus. Kini cerita ini jadi bahan obrolan seru untuk kami berdua, Alhamdulillah nikmat rasanya itu semua sudah terlewati.

Kini setiap kerabat bertamu, selalu ada pertanyaan. “TV disimpan dimana?” dan kemudian diikuti pandangan heran saat dijawab “Memang ga ada TV di rumah ini”. Seringnya sih dianggap bercanda, sampe beneran ga nemu baru kemudian nanya lagi “Seriusan? Kenapa ga ada?” biasanya saya cuma senyum, males jawab ✌️. Atau klo lagi mood jawab palingan jawab “Memang milih ga punya TV” biasanya jawaban itu  berujung tatapan ‘kalian-aneh-banget’  untuk yg ga berani bilang langsung atau kalimat “Ah kalian aneh! ” untuk yg berani terang-terangan hahaha

Iya deh Bang Joey, kami emang ga punya TV ☺️

Ih kan kasian anak ga kenal TV! Yakali harus, di Daycare anak-anak punya waktu maksimal 2 jam setiap harinya untuk bisa nonton video pilihan sehabis mandi sore sambil menunggu dijemput orang tua. Alhamdulillah anak saya terhindar dari tontonan ga bermutu.

Belum lagi tawaran silih berganti dari Mama, Mama mertua, Bibi dan Nenek yg hingga sekarang intens menawari TV cuma-cuma. Malahan diiming-imingi untuk dikirim langsung ke rumah. Saya ngerti kok itu sebagai bentuk sayang dan seperti biasanya jawaban saya dan suami tetap sama, “Terimakasih nanti klo udah butuh kita pasti bilang”.

Saya heran, sejak kapan dan kenapa punya televisi dianggap suatu keharusan lantas saking harusnya orang yg milih untuk ga punya dicap aneh.  Untuk saya yg namanya keharusan itu adalah menghormati pilihan orang lain saat tidak sependapat dengan kita karena pastinya setiap orang punya alasan sendiri. Bukankah  kelak tiap-tiap jiwa akan dimintai pertanggungjawaban untuk segala pilihannya kan?

Advertisements
lesson

Kuliah lagi

Berhubung  diumumin tema minggu pertama September #1minggu1cerita adalah sekolah dan itu berbarengan sama tabungan dikeruk buat bayar semesteran (curcol), jadinya yg pertama kepikiran buat ditulis yaini. Tentang saya yg sebelumnya ngerasa too cool for school tapi ujung-ujungnya balik lagi sekolah.

Diawali dengan pengalaman depresi  akhir tahun lalu dimana saya harus kehilangan anak ke2. Rasanya dunia saya terhenti, saya merasa ga punya apa-apa dan jadi orang paling merana sedunia kayak awkarin #eh. Suami kemudian menantang saya untuk kuliah lagi, biar ga galau melulu untuk menyibukkan diri. Okay, challenge accepted!

Hari pertama kuliah, rasanya campuran antara geli+excited secara terakhir liat dosen didepan kelas itu udah sekitar 10 tahun lalu, kepikiran anak yg selama kuliah ikut nunggu bareng babanya dan jadi harus ikutan pulang malem (FYI, saya kuliah sampe set10 malam) sekaligus merasa asing ketemu orang-orang baru.
Beruntung akhirnya dipertemukan dengan teman2 baru, dimana akhirnya kami ber 5 bikin grup wasap ‘Kami Ingin Jadi Sarjana’. Lucu ya namanya, ya memang kenyataannya kami ingin jadi sarjana- dengan alasan masing-masing. Ada yg alasannya karena ingin berhenti  dibego2in dan diremehin senior di tempat kerja gegara belum sarjana, getaway dari belum siap punya anak padahal sebelumnya ngerasa siap nikah muda sampai untuk move on karena batal menikah. Alasan-alasan yg ga enak ini jadi motivasi untuk semangat kuliah.screenshot_2016-09-18-22-06-11_com.whatsapp.png

Satu semester akhirnya terlewati dengan penuh keseruan. Seru karena dipaksa lagi untuk mau baca dan belajar materi seputaran pajak, audit dan perakuntansian yg sebelumnya udah dipacking kenceng di gudang otak, tugas kuliah juga seringnya dikerjain sambil nyuri2 waktu di luang kantor. Pernah karena dikantor ga memungkinkan sementara tugas harus dikumpulkan besoknya, sayapun begadang mengerjakan tugas sambil menyusui anak. Kurang seru apa coba?

Harus diakui, kuliah lagi sambil bekerja dan mengurus suami+anak memang ga mudah. Saya dituntut untuk bisa lebih baik membagi waktu. Walaupun berasa akrobat setiap harinya, tapi saya percaya apa yg sedang diusahakan sekarang pasti akan seimbang dengan hasil yg didapat dikemudian.

screenshot_2016-09-18-22-53-56_org.wordpress.android_1474214079679.jpg

Menulislah walau #1minggu1cerita

lesson

Sensus Al-Quran

Jumat sore lalu ada surat edaran nyangkut di tralis pintu, isinya tentang sensus Al-Quran. Sensus Al-Quran? seriusan? Selain sensus penduduk, saya baru tau ada istilah itu.
Dan besoknya beneran ada loh, bapa petugas sensus bertamu untuk menyensus (yaeyalah apalagi). Oke seriusan ternyata 🙂

Jadi di sensus Al-Quran ini setiap kepala keluarga ditanyai :

  1. Berapa banyak orang dewasa dirumah ? Ukuran dewasa disini adalah baligh, berkewajiban untuk shalat.
  2. Punya Al-Quran kah ?
  3. Sudah bisa membaca Al-Quran ? selanjutnya ditanyai kelancaran membacanya.
  4. Apakah sering membaca Al-Quran ?
  5. Apakah sering datang ke majlis taklim untuk mengaji bersama ?

Selanjutnya petugas sensus memberi penjelasan mengenai sensus yg dilakukan, disiapkan juga follow up untuk sensus ini. Ada banyak Al-Quran gratis yg siap dibagikan untuk keluarga yg belum mempunyai Al-Quran dirumah. Untuk yg belum bisa membaca Al-Quran juga akan dikirim pengajar privat yg akan mengajari sampai lancar.

Lalu timbul pertanyaan, pendanaan sensus ini dari mana?
Pendanaan sensus ini murni dari yayasan mereka yg independen, tidak menyangkut kepentingan politik dan pake pesan-pesan sponsor parpol manapun. Selain dari donatur, kebanyakan malah berasal dari sumbangan celengan dapur ibu-ibu yg bersedia ikut menyumbang.
Berikut penampakannya :

DSC_0539
Celengan ajaib

       Mekanismenya, celengan ini disimpan di dapur rumah yg bersedia ikut          membantu. Recehan sisa-sisa belanja dapur yg ditabung di celengan ini nantinya  secara berkala (bisa 2 minggu sekali atau bahkan sebulan sekali) diambil oleh  petugas yayasan. Nah hasil yg terkumpul nantinya digunakan untuk program Al- Quran, mulai dari sensus, menggaji para guru ngaji, wakaf Al-Quran juga.

 Subhanallah !  Amazing kan bahwa recehan bisa banyak membantu menularkan  kebaikan ?

Sesuai dengan dasar dari sensus ini, bahwa keberadaan Al-Quran merupakan  tanggung jawab sosial. Umat Islam bertanggung jawab atas keberadaan Al-Quran  ditengah-tengah umat manusia.

“Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban”
(Surat Az-Zukhruf : 44)

Tertarik ikut mengupayakan diri siap dimintai pertanggungjawaban melalui cara ini ?

DSC_0540

lesson

Berkenalan dengan mas Gregorian

     The awkward moment is when my hubby start to put Gregorian music in his playlist then play it all the time. All the time disini adalah siap2 mandi, bangun tidur, Mau tidur, mau makan dan bahkan motong rumput *doh ! Rumah pun bagai difogging pake musik gregorian.
Sebagai newbie di dunia perGregorianan saya pun tertarik nyari dan jadi tau bahwa si musik Gregorian muncul diabad pertengahan, dimasa Paus Gregorian. Dan si buku sakti bikin saya nyasar ke Paus Gregorian XIII yg menetapkan sistem kabisat pada dasar perhitungan kalender sekarang. Entah Paus Gregorian yg sama atau bukan, buat saya ini jauh lebih menarik ketimbang musik Gregorian *big grin
     Jadi pada awalnya salah satu perhitungan kasar untuk pencatatan hari, cukup dengan memberi tanda garis di pohon atau batu setiap matahari terbit. What a cool activity !

image

Cara lainnya adalah dengan menandai perubahan bulan. Bukan ! Bukan untuk tau kapan berubah jadi werewolf. Mereka mulai menemukan pola bahwa satu full moon ke full moon berikutnya butuh waktu 28 1/2 hari, inilah yg kemudian menjadi dasar perhitungan month atau bulan.
Tidak hanya itu, mereka juga mulai mengobservasi bahwa datangnya musim dan munculnya gugusan bintang tertentu tiap bulan membentuk pola beraturan. Gugusan yg kemudian mereka beri nama Crab, the Great Bear dan the Lion akhirnya disebut konstelasi bintang atau rasi. Setiap 12 bulan sekali setiap rasi muncul lagi di tempat yg sama. Inilah yg kemudian jadi dasar perhitungan tahun sekaligus yg sekarang kita sebut zodiak . Crab yg muncul pertengahan Desember sampai pertengahan Januari jadi zodiak Capricorn, atau the Lion yg muncul pertengahan Juli sampai pertengahan Agustus jadi zodiak Leo.
Nah jadi penamaan bulan Agustus atau Juli itu asalnya dari mana ?
Di kemudian hari, konsep perhitungan 12 bulan dianggap tidak sesuai oleh bangsa Romawi kuno karena hanya punya 360 hari, konsep ini dianggap membuat satu tahun jadi lebih pendek sekitar 6 hari dibandingkan dengan waktu yg dibutuhkan bumi untuk mengelilingi matahari.
Maka itulah Julius Caesar yg paham kalau satu tahun sama dengan 365 hari ditambah kurang lebih 6 jam merevisi, Julius mendeklarasikan penambahan 6 jam ini disimpan dan akan diakumulasikan ke tahun berikutnya yg berarti setiap 4 tahun sekali akan ada satu tahun yg berjumlah 366 hari.
Sayangnya sistem kalender ikut berubah sesuai perubahan kekaisaran. Dimasa kekaisaran Augustus perhitungan tahun dimulai dari bulan Maret dan berakhir di Februari. Inilah jawaban kenapa September yg kita tau bulan ke-9 dalam bahasa Latin berarti tujuh dan terdengar ga relevan untuk kita sekarang yg memulai tahun baru dari Januari.

# Januari diambil dari Janus , dalam mitologi Romawi Janus dilambangkan bermuka 2, saling membelakangi sebagai representasi masa depan dan masa lalu.
# Februari berasal dari Februa , festival untuk penghormatan roh orang yg sudah meninggal
# Maret diambil dari Mars si dewa perang dalam Mitologi Romawi
# April dalam bahasa Latin berarti membuka, karena April jadi bulan pembukaan musim panas.
# Mei mungkin dari Maius Jupiter sang dewa pertanian sekaligus raja para dewa.
# Juni untuk menghormati Juno istri dari Jupiter.
# Julius Caesar dan Augustus kedua kaisar yg ingin terkenal dalam sejarah perkalenderan mengabadikan nama mereka jadi nama bulan Juli dan Agustus.
# September, Oktober (Octo), November (Novem), Desember (Decem) untuk berhitung dari 7 sampai 10 dalam bahasa latin.

     Balik lagi ke masa pergantian kaisar yg ikut juga merubah sistem perhitungan kalender, masuk ke bagian penting nih! Di tahun 1582 Paus Gregory XIII memutuskan untuk merombak perkalenderan dengan menghilangkan 10 hari ditahun ini untuk menjaga keakuratan perhitungan kalender dimasa depan. Aturannya setiap 4 tahun sekali akan ada tahun kabisat kecuali tahun pertama dalam setiap abad. Jadi tahun akan  jadi kabisat jika bisa dibagi 400. Inilah makanya dalam kalender Gregorian tahun 1600 dan 2000 termasuk kabisat, tapi tidak untuk tahun 1700, 1800 dan 1900.
Dialah yg menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya tempat-tempat bagi perjalanan bulan itu supaya kamu tahu bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yg demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yg mengetahui.” (QS. Yunus-10:5)
     Sampai sekarang perhitungan kalender yg umum memang berdasarkan sistem matahari. Tapi sebagian tempat masih ada yg menghitung tahun berdasarkan budaya atau agama. Seperti kalender Islam memulai tahun  622 setelah masehi, dimana nabi Muhammad hijrah ke Madinah dan disebut tahun hijriah. Di Cina kalender Gregorian jadi perhitungan resmi, dihitung dari awal kekaisaran Huangte. Jepang memulai perhitungan tahun dari rezim kaisar Jimmu. Sebagian bangsa Armenia dan Yahudi malah percaya bahwa manusia diciptakan tahun 3760 sebelum masehi. Ethiophia bahkan jadi unik karena 1961 untuk kita, jadi 1954 untuk mereka ! secara mereka galau untuk ikut perhitungan negara bagian Eropa mana selama 7 tahun.
Yg paling baru jadi trending topic ada perhitungan kalender suku Maya dan  isu kiamat yg bikin banyak orang resah.
     Terlepas dari bagaimanapun perhitungannya, yg jelas bumi berikut tata surya semakin tua dan begitupun kita. Seperti sistem perhitungan kalender yg diawali dengan mencari pohon buat dicoret dan makin lama makin kompleks seiring dengan berkembangnya pola pikir manusia. Saya pun berharap apa yg saya bagi meskipun sederhana tapi bisa bermanfaat.
Btw, thanks to Gregorian music which made me wrote this much ! 🙂

Sumber : The Golden Treasury of Knowledge vol 4, Golden Press New York.
 

heartwarmer · lesson · lovelife

Marie dan Pierre Curie

Tau Marie Curie kan? Saya baru kenal saat baca komik seri tokoh dunia jaman esde dan langsung suka. Saat itu saya yg mengalami masa transisi dari esde ke esempe, mulai masuk masa puber dan berharap jadi Marie Sklodowska yg bertemu dengan Pierre Curie, seseorang yg jenius, punya passion yg sama, bisa saling mendukung hingga mereka bisa mendapatkan Nobel atas penemuan unsur radium dan bisa jadi suami pendidik anak dimana Irene Curie, anak pertama mereka mendapatkan Nobel kimia seperti kedua orang tuanya dikemudian hari.
Mungkin terlalu muluk untuk anak belasan tahun, tapi pengaruh membaca biografi Marie dalam bentuk komik itu terlalu kuat untuk saya, membuat saya selalu mencari Pierre Curie versi saya sendiri. Pria jenius yg bisa membuat jatuh cinta untuk kemudian dipacari. Sayangnya itu sulit sekali. Menetapkan standar itu untuk anak SMP sama aja dengan minta jadi jomblo belagu seumur-umur. Sekeren-kerennya cowok SMP belasan taun, mana ada sih yg jenius tapi bisa terlihat cool? Yg ada jatoh-jatohnya lebih ke arah nerd berpotensi psikopat. Butuh keberuntungan tingkat dewa diatas Zeus untuk ngabulin mimpi muluk saya.
  And life happened, saya ketemu banyak orang, banyak pria menarik (beberapa brengsek),membuat standar pasangan hidup bergeser dengan sendirinya, sayapun udah lupa per Marie Pierre an.
  Tapi rupanya semesta mencatat dan membantu mewujudkan mimpi si abege muluk dengan caranya sendiri bahkan saat si abege muluk udah lupa.
Abege muluk itu adalah saya yg malam ini kebangun tengah malem lantas iseng buka ensiklopedi hadiah anniversary 2 tahun nikah untuk suami, mengambil buku seri ke 1, membuka dengan random dan sampai di halaman 51.

image

  Sempet nahan nafas, senyum sendiri dan kemudian mengucap syukur Alhamdulillah untuk pasangan hidup yg Allah berikan pada saya. Merasa diberi pencerahan setelah mengalami berbagai gempa kecil dalam rumah tangga setahun belakangan ini.
  Jadi ingat lagi kalau dulu saya suka pasangan Marie-Pierre karena rima akhir nama yg sama terdengar begitu klop di telinga, pasangan Ala-Ali mudah-mudahan seklop terdengarnya. Baru sadar kalau figur Pierre Curie yg seorang dosen, ambisius,pekerja keras dan brainy ada di Nurhayat Ali Hanifa suami saya. Melengkapi kekagetan saya untuk dikabulkannya kemulukan untuk punya pasangan hidup dengan passion sama, dimana kami berdua diluar disiplin ilmu yg ditekuni dan musik, punya ketertarikan yg sama akan buku, film, sejarah, benda pos dan jutaan hal lainnya yg bisa dibahas tanpa bosan untuk membuat pernikahan kami makin hidup. Amazingnya lagi, seperti Pierre kepada Marie. Suami selalu bisa mendukung saya mengembangkan minat, mulai dari les berbagai bahasa sampai jahit. Tahu betul saya sama sekali tidak tertarik kuliah lagi untuk mengupgrade gelar dan tidak suka dipaksa untuk itu.
  Kejadian malam ini semacam sentilan, mengingatkan akan betapa berpengaruhnya kekuatan pikiran terhadap masa depan, betapa kurang bersyukurnya saya sementara harusnya saya berterima kasih untuk banyak hal yg didapat. Kadang Allah mengingatkan bahwa semesta mendukung mimpi dengan banyak cara untuk menjalankan ketentuan-Nya, hampir selalu diluar nalar manusia untuk menyadarkan betapa kecilnya manusia.
  Terimakasih sudah kembali diingatkan dengan cara yg sederhana dan lucu.

Book · lesson · Pleasure

Negeri 5 Menara

Novel apa yg jadi best seller  sejak tahun lalu ?

Negeri 5 menara masuk list pastinya

Membacanya, saya ikut cemas saat Alif dkk dihukum gundul  (sambil membayangkan Tyson seperti apa),  ikut gemas ke Randai yg kesannya show off  keberuntungannya, ikut geli membayangkan seruangan minum kopi bersama yg diaduk di ember (oops! ) , sedih pada bagian kepulangan Baso ke kampung dan konsep jubah untuk orang tua yg ingin dia berikan , tertawa membaca kelakuan anak2 pesantren putra saat ketemu lawan jenis , dan kagum dengan kebrilianan ide panggung 4D yg dibuat angkatan Alif (bahkan dengan segala keterbatasan yg ada, mereka bisa membuat panggung yg keren). Buku ini sukses bikin emosi turun naik, efek dari Man Jadda Wa Jada , mantra ajaib yg bisa menyemangati banyak orang.

Buku ini juga dengan suksesnya mengubah pandangan banyak orang (terutama saya) tentang suatu tempat yg namanya pesantren (bahkan saya pun bercita-cita kelak mengirim anak-anak ke sana- amin). Jika selama ini pondok pesantren dikira hanya mengenalkan segala hal mengenai dunia Islam dan Arab, diPondok Madani (Pesantren yg jadi latar cerita) dibukakan mata bahwa Islam memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengenal dunia barat yg pernah ditaklukan Islam.

And the good news adalahhh… akhirnya saya bisa juga ketemu sama Bang Ahmad Fuadi

Yep the Author!!!! 

Sabtu lalu di Gramed Merdeka, Bang Fuadi dengan baik hatinya mau berbagi cerita tentang bukunya yang inspiratif ini. Buku ini memang sebagian besar diambil dari pengalaman beliau saat sekolah di Pondok Modern Gontor.

Di acara ini saya jadi tau filosofi cover novel negeri 5 menara, dimana masing-masing menara mewakili tempat akhir para sahibul menara, melihat video liputan Bang Ahmad Fuadi saat menjadi wartawan VOA dengan kemampuan 3 bahasa asing yg dikuasainya, spoiler untuk film adaptasinya yg rencananya tayang awal 2012 dan yg paling menyenangkan, ada acara book signingnya juga

horeeee!!!! 

my sidekick must be so happy with this belated present

Ga sabar nunggu buku ke 3, ga sabar nunggu filmnya 

@ work · lesson

Annoying Peer

“Why don’t you mind your own business ?

If you mind your own business, you’ll stay busy all the time.”

( Hank Williams Jr, Mind Your Own Business )

I do love my happy life

I do love my nice job

I do love my office and different people on it, but when it comes to a peer that touch my nerve, I need a big box to sent her to fort knox

It start when I try to fix up my job during my boss going out for a while…than this annoying one uncomfort me with going here and there , pretend thirsty and take a glass from nearest dispenser over me. That step, I am fine

After that, she try to wanna know what I do and find out more about my hardship task  and messaging my boss to tell da situation  Icon Mini.  Well, it  feels like  that she try to spyin’ me.

Next thing happen, she takeover my task as I ‘m not said that I need a hand of her , even I didnt say ‘help’ over her ear then…she push her luck by this inappropriate behaviourIcon Mini . Yep technically shes my senior, shes maybe know much than me. But when it come to mind other people business, isn’t it kinda impolite? So i tell her that she would be kind if she give me a try to do similiar task for next time, I need a lot practice to handle any difficulty on my job, and I will ask for her help if needed . She looks surprised and blushing after that.

Hope she learn a lot from this.

Self intent on work not similiar with minding people business.

In my opinion, better to take own business than annoying other