heartwarmer · lesson · lovelife

Marie dan Pierre Curie

Tau Marie Curie kan? Saya baru kenal saat baca komik seri tokoh dunia jaman esde dan langsung suka. Saat itu saya yg mengalami masa transisi dari esde ke esempe, mulai masuk masa puber dan berharap jadi Marie Sklodowska yg bertemu dengan Pierre Curie, seseorang yg jenius, punya passion yg sama, bisa saling mendukung hingga mereka bisa mendapatkan Nobel atas penemuan unsur radium dan bisa jadi suami pendidik anak dimana Irene Curie, anak pertama mereka mendapatkan Nobel kimia seperti kedua orang tuanya dikemudian hari.
Mungkin terlalu muluk untuk anak belasan tahun, tapi pengaruh membaca biografi Marie dalam bentuk komik itu terlalu kuat untuk saya, membuat saya selalu mencari Pierre Curie versi saya sendiri. Pria jenius yg bisa membuat jatuh cinta untuk kemudian dipacari. Sayangnya itu sulit sekali. Menetapkan standar itu untuk anak SMP sama aja dengan minta jadi jomblo belagu seumur-umur. Sekeren-kerennya cowok SMP belasan taun, mana ada sih yg jenius tapi bisa terlihat cool? Yg ada jatoh-jatohnya lebih ke arah nerd berpotensi psikopat. Butuh keberuntungan tingkat dewa diatas Zeus untuk ngabulin mimpi muluk saya.
  And life happened, saya ketemu banyak orang, banyak pria menarik (beberapa brengsek),membuat standar pasangan hidup bergeser dengan sendirinya, sayapun udah lupa per Marie Pierre an.
  Tapi rupanya semesta mencatat dan membantu mewujudkan mimpi si abege muluk dengan caranya sendiri bahkan saat si abege muluk udah lupa.
Abege muluk itu adalah saya yg malam ini kebangun tengah malem lantas iseng buka ensiklopedi hadiah anniversary 2 tahun nikah untuk suami, mengambil buku seri ke 1, membuka dengan random dan sampai di halaman 51.

image

  Sempet nahan nafas, senyum sendiri dan kemudian mengucap syukur Alhamdulillah untuk pasangan hidup yg Allah berikan pada saya. Merasa diberi pencerahan setelah mengalami berbagai gempa kecil dalam rumah tangga setahun belakangan ini.
  Jadi ingat lagi kalau dulu saya suka pasangan Marie-Pierre karena rima akhir nama yg sama terdengar begitu klop di telinga, pasangan Ala-Ali mudah-mudahan seklop terdengarnya. Baru sadar kalau figur Pierre Curie yg seorang dosen, ambisius,pekerja keras dan brainy ada di Nurhayat Ali Hanifa suami saya. Melengkapi kekagetan saya untuk dikabulkannya kemulukan untuk punya pasangan hidup dengan passion sama, dimana kami berdua diluar disiplin ilmu yg ditekuni dan musik, punya ketertarikan yg sama akan buku, film, sejarah, benda pos dan jutaan hal lainnya yg bisa dibahas tanpa bosan untuk membuat pernikahan kami makin hidup. Amazingnya lagi, seperti Pierre kepada Marie. Suami selalu bisa mendukung saya mengembangkan minat, mulai dari les berbagai bahasa sampai jahit. Tahu betul saya sama sekali tidak tertarik kuliah lagi untuk mengupgrade gelar dan tidak suka dipaksa untuk itu.
  Kejadian malam ini semacam sentilan, mengingatkan akan betapa berpengaruhnya kekuatan pikiran terhadap masa depan, betapa kurang bersyukurnya saya sementara harusnya saya berterima kasih untuk banyak hal yg didapat. Kadang Allah mengingatkan bahwa semesta mendukung mimpi dengan banyak cara untuk menjalankan ketentuan-Nya, hampir selalu diluar nalar manusia untuk menyadarkan betapa kecilnya manusia.
  Terimakasih sudah kembali diingatkan dengan cara yg sederhana dan lucu.

Advertisements

2 thoughts on “Marie dan Pierre Curie

  1. Lepas dari cerita kalau Pierre meninggal dengan cara yang tragis dan Marie “dibunuh oleh nobelnya” sendiri, Tuhan bekerja dengan caranya yang indah, yang kadang kita tidak perlu kepo apa isi diary Allah di Lauh Mahfudz. Jalani sesuai jalan Nya dengan sepenuh hati dan tenaga, menjaga diri, dan selalu berbaik sangka terhadap rencana Allah dan menikmati hidup adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan di Dunia yang hanya sebentar ini.

    dan wawa adalah rencana Allah terindah yang hadir di hidup gege sampai saat ini 🙂
    #berdoaDanBerusahaMemantaskanDiriUntukDiberikanKepercayaanSebagaiOrangTua

  2. ah,… membaca perjalanan mencari kisah sejati pasangan ciptaan tuhan tak melulu harus ke Gramedia ‘tuk membeli buku best seller Habibie Ainun atau menonton layar kehidupan Widyawati Sophan Sopian di CD pilem lama, dengan sedikit meluangkan waktu membaca testimoni ini seakan mata sudah dibukakan oleh-Nya bahwa Tuhan memiliki rencana dan eksekusi yang indah dalam memilihkan jodoh yang tepat ‘selamat untuk ala – ali’ . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s